Kendaraan Komersial Listrik Mulai Masuk Sektor Tambang, Apakah Kendaraan Roda Tiga Bisa Ikut?

Elektrifikasi kendaraan di Indonesia mulai bergerak dari kendaraan penumpang menuju kendaraan komersial.

Salah satu sektor yang mulai menjadi perhatian adalah pertambangan.

Pada September 2026, JAC Motors memperkenalkan kendaraan komersial listrik untuk kebutuhan operasional industri pertambangan melalui ajang Mining Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, JAC membawa Trekker T9 EV dan UrbanMover N90 EV. JAC juga menyerahkan 150 unit Trekker T9 EV kepada tiga perusahaan pertambangan yang beroperasi di Aceh, Berau, Kalimantan Timur, dan Banyuwangi, Jawa Timur.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa penggunaan kendaraan listrik mulai masuk ke lingkungan yang memiliki tuntutan operasional berbeda dibandingkan kendaraan penumpang.

Pertanyaannya, apakah tren tersebut juga membuka peluang bagi kendaraan listrik roda tiga untuk kebutuhan operasional tambang?

Kendaraan Listrik di Tambang Tidak Bisa Sekadar Ganti Mesin BBM

Sektor pertambangan memiliki karakteristik yang berbeda.

Kendaraan bisa bekerja dengan intensitas tinggi, menghadapi variasi medan, membawa beban, serta beroperasi di lingkungan yang membutuhkan keandalan kendaraan.

Karena itu, elektrifikasi di sektor pertambangan tidak cukup dilakukan dengan mengganti mesin pembakaran internal menjadi motor listrik.

Kementerian Perindustrian sebelumnya menekankan bahwa elektrifikasi pertambangan membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif, termasuk ekosistem energi dan infrastruktur pendukung.

Artinya, sebelum perusahaan membeli kendaraan listrik, ada beberapa hal yang perlu dihitung.

Mulai dari pola penggunaan kendaraan, kebutuhan daya, kondisi medan, kapasitas baterai, hingga sistem charging.

Medan Operasional Menjadi Faktor Utama

Kendaraan listrik untuk jalan perkotaan dan kendaraan listrik untuk area industri tidak selalu membutuhkan konfigurasi yang sama.

Di lingkungan tambang, misalnya, kendaraan dapat menghadapi:

  • Jalan tidak rata
  • Tanjakan
  • Permukaan tanah
  • Lumpur
  • Debu
  • Beban angkut tinggi
  • Penggunaan berulang dalam satu shift

Karena itu, desain kendaraan harus disesuaikan dengan lingkungan kerja.

JAC misalnya memperkenalkan Trekker T9 EV dengan sistem penggerak 4×4 serta fitur differential lock yang ditujukan untuk membantu meningkatkan traksi pada kondisi medan tertentu.

Ini menunjukkan bahwa spesifikasi kendaraan harus mengikuti kebutuhan operasional, bukan sebaliknya.

Lalu, Di Mana Posisi Kendaraan Listrik Roda Tiga?

Tidak semua kendaraan di area pertambangan harus berupa truk besar.

Ada berbagai pekerjaan pendukung yang membutuhkan kendaraan berukuran lebih kecil.

Misalnya:

  • Mengangkut peralatan teknisi
  • Membawa spare part
  • Mengirim material ringan
  • Mobilitas pekerja di area tertentu
  • Mengangkut perlengkapan maintenance
  • Operasional gudang
  • Pengangkutan sampah
  • Utility kawasan

Untuk pekerjaan seperti itu, kendaraan listrik roda tiga dapat menjadi salah satu bentuk kendaraan yang secara fungsi lebih sederhana dibandingkan truk.

Namun, ini bukan berarti kendaraan roda tiga otomatis cocok untuk semua area tambang.

Pemilihan kendaraan tetap harus mempertimbangkan medan, beban, jarak, kecepatan, dan aturan keselamatan di lokasi kerja.

Kendaraan Listrik Komersial Mulai Diuji pada Operasional Intensif

Masuknya kendaraan komersial listrik ke sektor tambang menarik karena sektor ini memiliki tingkat utilisasi kendaraan yang tinggi.

ANTARA melaporkan bahwa VKTR juga mendorong penggunaan kendaraan listrik komersial untuk sektor pertambangan. Perusahaan tersebut menekankan bahwa elektrifikasi harus mempertimbangkan kebutuhan operasional nyata, utilisasi, reliability, serta efisiensi biaya.

Ini merupakan poin penting.

Perusahaan tidak membeli kendaraan listrik hanya karena kendaraan tersebut menggunakan baterai.

Yang lebih penting adalah apakah kendaraan mampu menjalankan pekerjaan yang diberikan secara konsisten.

Total Cost of Ownership Mulai Jadi Pertimbangan

Ketika kendaraan digunakan setiap hari, harga pembelian bukan satu-satunya komponen biaya.

Perusahaan juga harus menghitung Total Cost of Ownership atau TCO.

Komponennya dapat mencakup:

  • Biaya energi
  • Perawatan
  • Suku cadang
  • Downtime
  • Penggantian baterai
  • Usia kendaraan
  • Produktivitas
  • Biaya operasional harian

Kendaraan listrik memiliki struktur biaya yang berbeda dari kendaraan berbahan bakar minyak.

Karena itu, perbandingan sebaiknya tidak hanya menggunakan harga beli.

Misalnya, kendaraan dengan harga awal lebih tinggi belum tentu memiliki biaya penggunaan yang lebih tinggi sepanjang masa operasionalnya.

Sebaliknya, kendaraan listrik juga tidak otomatis lebih murah dalam setiap kondisi.

Pola penggunaan dan infrastruktur charging tetap menjadi faktor penting.

Infrastruktur Charging Jadi Tantangan

Ini salah satu hal yang sering terlupakan.

Kendaraan listrik membutuhkan energi untuk kembali beroperasi.

Di kawasan industri atau pertambangan yang lokasinya jauh dari fasilitas umum, perusahaan perlu memikirkan infrastruktur charging sendiri.

Kapasitas listrik, lokasi charger, waktu pengisian, dan pola shift harus diperhitungkan sejak awal.

Misalnya, apabila kendaraan bekerja selama satu shift penuh, perusahaan harus mengetahui kapan kendaraan dapat melakukan charging tanpa mengganggu operasional.

Karena itu, fleet planning menjadi bagian dari implementasi kendaraan listrik.

Baterai Harus Disesuaikan dengan Pola Kerja

Kapasitas baterai tidak bisa dipilih hanya berdasarkan angka terbesar.

Perusahaan perlu mengetahui:

Berapa kilometer kendaraan bergerak setiap hari?

Berapa lama kendaraan digunakan?

Berapa berat beban yang dibawa?

Bagaimana kondisi jalannya?

Berapa kali kendaraan berhenti dan berjalan kembali?

Kapan kendaraan bisa melakukan charging?

Dari data tersebut, kebutuhan battery pack dapat dihitung dengan lebih tepat.

Untuk kendaraan listrik roda tiga, hal ini menjadi semakin penting karena kendaraan komersial memiliki kebutuhan yang berbeda dengan kendaraan pribadi.

Battery Pack Custom Bisa Menjadi Solusi

Kendaraan operasional tidak selalu menggunakan konfigurasi yang sama.

Satu perusahaan mungkin membutuhkan kendaraan dengan jarak tempuh lebih panjang.

Perusahaan lain mungkin lebih membutuhkan kemampuan membawa beban.

Ada pula yang membutuhkan kendaraan untuk bekerja dalam waktu panjang dengan kesempatan charging yang terbatas.

Karena itu, battery pack lithium custom dapat menjadi salah satu pendekatan untuk menyesuaikan kebutuhan kendaraan dengan pola operasional.

Parameter seperti kapasitas, tegangan, konfigurasi sel, BMS, dimensi battery pack, dan sistem charging perlu disesuaikan dengan kendaraan.

TKDN Juga Semakin Relevan

Perkembangan kendaraan listrik komersial juga berjalan bersama dengan peningkatan kandungan lokal.

Bisnis.com melaporkan bahwa lini kendaraan listrik JAC yang dirakit di Indonesia saat ini memiliki TKDN sekitar 40%, dengan target peningkatan menjadi 60% pada 2027. Perusahaan juga menyebut adanya rencana memperluas kerja sama dengan pemasok lokal.

Bagi industri kendaraan listrik Indonesia, perkembangan ini menunjukkan bahwa rantai pasok lokal semakin menjadi perhatian.

Untuk kendaraan operasional perusahaan, aspek TKDN dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperiksa, khususnya ketika kendaraan masuk dalam kebutuhan pengadaan tertentu.

Namun, TKDN sebaiknya tidak menjadi satu-satunya parameter.

Spesifikasi, layanan purna jual, ketersediaan spare part, baterai, dan kemampuan kendaraan tetap harus diperiksa.

Apakah Semua Area Tambang Cocok untuk Kendaraan Listrik?

Belum tentu.

Ini penting untuk ditegaskan.

Elektrifikasi bukan berarti seluruh kendaraan berbahan bakar minyak harus langsung diganti.

Kondisi lapangan sangat menentukan.

Kendaraan listrik mungkin lebih mudah diterapkan pada pekerjaan tertentu yang memiliki:

  • Rute relatif terukur
  • Jarak operasional jelas
  • Jadwal kerja teratur
  • Area charging tersedia
  • Beban sesuai kemampuan kendaraan
  • Infrastruktur listrik memadai

Sementara itu, aplikasi dengan medan ekstrem dan kebutuhan daya sangat tinggi membutuhkan teknologi serta konfigurasi kendaraan yang berbeda.

Kemenperin juga menekankan bahwa elektrifikasi sektor pertambangan membutuhkan ekosistem yang terintegrasi, bukan hanya penggantian kendaraan.

Dari Tambang ke Industri Lain

Perkembangan kendaraan komersial listrik di sektor tambang sebenarnya memberikan pelajaran yang lebih luas.

Kendaraan listrik untuk industri harus dirancang berdasarkan fungsi kendaraan.

Konsep tersebut dapat diterapkan pada berbagai sektor:

Logistik

Untuk membawa barang dalam kawasan industri atau gudang.

Manufaktur

Untuk memindahkan material dan peralatan antararea produksi.

Perkebunan

Untuk mobilitas dan distribusi material di area operasional.

Utility

Untuk maintenance dan kebutuhan teknis kawasan.

Pengelolaan Sampah

Untuk mengangkut sampah dari titik pengumpulan ke lokasi pengolahan.

Pada pekerjaan seperti ini, kendaraan roda tiga listrik dapat menjadi salah satu alternatif karena ukurannya lebih ringkas dan dapat dikonfigurasi berdasarkan kebutuhan.

Apa yang Harus Dicek Sebelum Membeli?

Jika perusahaan ingin menggunakan kendaraan listrik untuk operasional industri, jangan hanya bertanya:

“Berapa harga kendaraannya?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

  1. Berapa beban maksimal?
  2. Berapa jarak tempuh aktual?
  3. Bagaimana kondisi medan?
  4. Berapa jam kendaraan bekerja setiap hari?
  5. Berapa lama charging?
  6. Bagaimana umur dan garansi baterai?
  7. Apakah spare part tersedia?
  8. Bagaimana layanan purna jual?
  9. Apakah kendaraan dapat dikustomisasi?
  10. Bagaimana perhitungan TCO?

Dari sini perusahaan bisa menentukan kendaraan yang benar-benar sesuai dengan pekerjaan.

Kesimpulan

Masuknya kendaraan komersial listrik ke sektor pertambangan menunjukkan bahwa elektrifikasi mulai bergerak menuju kebutuhan operasional yang lebih berat.

JAC Motors telah memperkenalkan kendaraan komersial EV untuk sektor pertambangan dan menyerahkan 150 unit Trekker T9 EV kepada tiga perusahaan tambang. Di sisi lain, VKTR juga mengembangkan solusi kendaraan listrik komersial untuk kebutuhan operasional pertambangan.

Namun, keberhasilan kendaraan listrik di sektor industri tidak hanya bergantung pada motor listrik atau kapasitas baterai.

Medan, utilisasi, charging, reliability, battery pack, maintenance, dan Total Cost of Ownership harus dihitung secara bersamaan.

Konsep yang sama berlaku untuk kendaraan listrik roda tiga.

Untuk kebutuhan seperti logistik internal, utility, pengangkutan barang, maintenance, dan operasional kawasan, kendaraan roda tiga listrik dapat dikembangkan dengan konfigurasi yang menyesuaikan kebutuhan pengguna.

Butuh Kendaraan Listrik Roda Tiga untuk Operasional Industri?

Matador Lectro menyediakan solusi kendaraan listrik untuk kebutuhan industri, logistik, utility, distribusi, pengangkutan, dan kendaraan custom.

Konsultasikan kebutuhan kapasitas angkut, medan operasional, jarak tempuh, serta battery pack agar kendaraan dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis Anda.

Scroll to Top